 |
 |
|
 | |  |
|
| Posts: | 757 | | Location: | Indonesia |
|
 |
Posted: Sun Dec 30, 2007 3:00 pm |
|
 |
|
 |
 |
ups.. masih mau lanjut....
okeh tadi interval dikit.. , biar gak tegang banget..
lanjut...
First Victim
Chelsea panik sekarang, karena gua paksa mengambil keputusan yang berat. Kalo nolak, dia yang jadi korban, tapi bila keputusan diambil, temannya yang harus menanggung akibatnya. Bella menggeleng-gelengkan kepala ke arah Chelsea, mengiba, jangan dia yang dipilih. Sementara Ayushita memandanginya marah.
“Pengecut loe! Masa loe nggak berani lawan dia? Masa loe nurut aja sama dia? Manja banget sih loe?!” Ayushita memakinya. Luar biasa betul cewek satu ini.
Wajah Chelsea memerah, matanya berlinang, dia terkejut dengan makian itu, dan itu betul-betul menyinggung perasaanya. Langsung aja dia nunjukin korban untuk gue.
“Dia” tunjuknya ke arah Ayushita.
Ayushita menatapnya tak percaya, nafasnya tersengal-sengal.
Gue ajak Chelsea berdiri dan iket dia di kursinya semula. Sesudah itu gue ke Ayushita buat ngelepas ikatan di tangan dan kakinya. “Pertama, saya sudah capek dengan omongan anda yang tidak sopan sejak pertama kali datang kemari.”
“Kedua, anda memaki Nona Chelsea yang dari tadi sudah menunjukkan sikap yang jauh lebih baik dari anda. Dan anda sama sekali tidak menghargainya.”
“Anda memang harus dihukum, dengan keras!.” Tangan dan kakinya sudah gue lepas, dia berusaha nyerang gua tapi sia-sia karena gue udah antisipasi, gue tekuk tangannya ke belakang. Gue lempar badannya ke kasur, dan langsung gue tindih, dia nggak bisa gerak, hanya tangannya terus memberontak.
Gue tampar pipinya. Gue denger dua cewek yang lain berteriak minta tolong. Mereka masih belum belajar juga kalau semua itu sia-sia.
Ayushita coba mendorong gue ke atas, walau nggak ada tenaganya sama sekali, gua cukup kerepotan. Akhirnya gue pegang dua tangannya dan gue tekan ke kasur. Sekarang tangan gue juga nggak bebas karena harus megangin tangannya dia. Padahal gua butuh maksa kakinya yang menutup rapat untuk membuka.
Dia mati-matian merapatkan kakinya. Kalau gua coba maksa buka pakai kaki gue, dia manfaatin celah itu buat nendang-nendang perut gue pakai lutut. And Its fucking hurt dude! Akhirnya gue teken lagi pakai kaki gue.
Gue cari akal, gue cengkeram dua tangannya pakai satu tangan aja terus gue teken ke samping badannya. Gua angkat badan gue sehingga tangan gue yang cuma satu bisa lebih kuat nekennya. Dia melihat gue cuma pegang tangannya pakai satu tangan mencoba fokus untuk ngelepasin diri. Tangan gue yang satunya bergerak bebas. Cerobohnya karena dia fokus ke tangan, kakinya jadi megendur. Kesempatan ini nggak gue sia-siain, dengan tangan gue satunya gue paksa angkat kakinya dan buka lebar-lebar selangkangannya. Dan pertahanan pun terbuka lebar...
Gue giring kontol gua ke sana, dia memekik dan langsung balik sekuat tenaga menutup rapat kakinya. Tapi sudah terlambat, posisi gue sekarang menguntungkan, gue dalam gerakan sekejap berhasil memaksa kedua kakinya melingkari pinggul gua. Dan kepala kontol gue sudah berada di dalam vaginanya.
Sekarang tangan gue balik mengamankan tangannya dia. Gua tekan ke kasur di samping kepalanya dia. Sudah tidak ada harapan lagi.
“Sudah siap?” Gue menyeringai
Gue masukkin pelan-pelan barang gua ke kemaluannya. Pelan...pelan....gue nggak mau kehilangan momentum ini barang sedetik pun. Dia mengerang kesakitan...”rrrrghhh”
Tapi waktu gw dorong ternyata cuma bisa masuk separo, gue keluarin adek gua pelan-pelan juga, terus gua ulangin sampai tujuh kali. Gue rasain dinding vaginanya berdenyut-denyut hangat mijitin punya gue. “Oooohh”
Akhirnya gua ambil ancang-ancang dan kali ini gua hujamkan dengan keras. “Uggggh!”. Dia menjerit kencang. Penis gue masuk lebih dalam. Gua hujamkan lagi sampai tiga kali, sampai masuk sempurna, dan gue ngerasa ada cairan mengalir di kontol gue.
Darah. Selaput daranya robek. Gue ketawa terkekeh-kekeh.
“Oh, jadi anda masih perawan? Maafkan saya, seharusnya saya lebih sabar mengajari anda.”
Dia mencoba melawan tekanan tangan gue. Tapi waktu gue mulai lagi genjotannya, dia menyerah.
“Uuuff...uuuff...aahhh, anda sungguh nikmat nona”
“Anda sungguh-sungguh...oooohhhh...nikmat.”
Sekarang dia berkeras memendam rasa sakitnya, kayaknya dia sadar kalau erangan sakitnya justru membuat gua makin senang. Dia memejamkan mata dan mengunci rapat mulutnya, walaupun sesekali terdengar rintihan saat gue penetrasinya kelewat kenceng.
Melihat usahanya itu gua cari akal. Gue harus bisa membuatnya benar-benar memahami makna dari apa itu diperkosa. Gue angkat dada gue, gue angkat tubuhnya. Sekarang kita dalam posisi duduk. Tangannya yang bebas kembali melakukan perlawanan. Gue rangkul terus gue dekep pakai satu tangan sampai dada kami nempel satu sama lain sehingga tangannya nggak bisa nyentuh wajah gue.
Terus tangan gue yang satunya mengangkat pantatnya dia, jadi gue punya ruang untuk melanjutkan pekerjaan. Gue mulai lagi, dan beneran dengan posisi begini penetrasi gue makin dalem. Dia nggak bisa nahan rasa sakitnya, teriakan kerasnya mengiringi setiap hentakan pinggul gue.
Dia betul-betul kesakitan sekarang.
Tangannya terus meronta, mukul-mukul kepala dan tengkuk gue, jambak rambut gue. Semua bisa gue tahan. Maksud gue...oh c’mon sesakit apa sih dipukul cewek 21 tahun? Apalagi kalau syaraf sakit loe sedang mati karena diserang arus kenikmatan yang sedang menerjang.
Lama-lama gua rasakan pukulan dan jambakan itu frekuensinya berkurang. Suaranya pun semakin melemah. Kira-kira setelah lima menit gue entot, suara teriakannya berhenti, hening, dan kedua lengannya justru erat memeluk gue...
Pundak gue basah, hangat, ternyata sekarang dia nangis di pundak gue. Bener-bener nangis, banjir air mata. Sekarang dia beneran pasrah, tinggal berharap semua mimpi buruk ini segera berakhir.
Gue jadi tambah girang...haha, mana keberanian loe tadi you bitch!
Misi utama gue sudah sukses, she’s already destroyed. Sekarang yang harus gue lakukan tinggal membereskan kekacauan dan mengambil komisi buat pribadi, hehe. Gue rebahin lagi tubuhnya, sekarang gue beneran nggak dapet perlawanan sedikitpun. Gue jadi bisa bebas gerayangin tubuh moleknya, mulut gue bebas cium and jilat-jilat wajahnya yang cantik. Gue lumat juga payudaranya yang kenyal.
“Aaaahh...ummm....nccp” Ibaratnya sekarang kelar menang perang, gue jarah semua asetnya sampai nggak ada lagi yang tersisa. Di samping itu tentu saja, adek gua masih tetap menjalankan tugas utamanya.
Dia masih terus nangis. Badannya lengket karena keringat. Kemudian mulutnya membuka, gua tangkep itu isyarat dia mau klimaks, gue percepat pompaan gue. Dan betul saja nggak lama kemudian, badannya mengejang.
"Aaaaaaakkkkkhhhhhhh......oooohhh......"
Orgasme keduanya malam ini.
Gue pelanin lagi irama entotan gue, kayaknya gua juga udah nggak bisa nahan lebih lama lagi. Gue berbisik ke dia.
“Nona, anda tidak mengecewakan saya. Saya minta maaf tidak tahu sebelumnya kalau anda perawan. Kalau tahu saya pasti akan tidak sekeras ini. Untuk itu saya akan memberi hadiah sebagai permohonan maaf.”
Dia tidak menjawab, sudah setengah tidak sadar.
“Saya beri sperma saya untuk anda kandung.”
Gue klimaks, gue benamkan kontol gue ke dalam lubang vaginanya. Gue mengerang “Aaaaarrrrrrrghhhh!!!” Crooottt....crotttt...crotttttttttttt
Limpahan kenikmatan membanjiri gue dalam sekejap. Gue merasa tenggelam sampai ke dasar laut. Gue merasakan ekstase yang nggak pernah gue rasain waktu ML-ML sebelumnya. Gue rasa ini 10 kali lipat lebih nikmat.
Ternyata bener dugaan gue, kepuasan yang gue dapet dari perkosaan berlipat-lipat dari seks biasa. Karena alasan gue yang kuat untuk menghukum, karena erangan penolakannya yang membuat gue lebih terangsang, ketidakberdayaan mereka....”Oooooohh”...Gue terkapar di kasur. Terkapar dalam kenikmatan.
Satu menit kemudian, gue sadar. Gue inget ada dua cewek lain yang masih terikat di kursi. Mereka berdua tertidur, kecapaian, kehilangan energi setelah menjerit-jerit berjam-jam. Gue lihat di samping gue Ayushita sudah tak sadar. Di vaginanya tampak luberan air mani gue. Gue belai rambutnya, gue peluk dia, badan kami bertemu, basah, lengket. Akhirnya gue kasih ciuman di bibir, ciuman mesra.
“For my first victim. I will always remember you, forever....”
============================================================
Gue jalan ke dapur, ambil air es di kulkas, gue minum tiga teguk. Gue ke wastafel cuci muka, gue pandangin muka gue di cermin. “Hai tukang perkosa!” gumam gue ke bayangan gue sendiri.
“Yes I am. But I have the reason right? I only choose the right victim.” Gue menyeringai, setuju dengan pembenaran gua sendiri.
“...”
“Tadi itu....tadi itu...luar biasa” pikir gua....
Gue tercenung beberapa saat...
Lantas gue tersenyum sendiri lagi...
“Tapi itu belum seberapa, sebentar lagi akan gue dapatkan yang tiga kali lebih hebat.” Gue teringat bagaimana sebenarnya gue paling terobsesi sama Bella.
Gue lirik jam dinding. Masih jam sebelas kurang.
“Malam masih panjang.” Gue berjalan kembali ke kamar sambil terkekeh-kekeh.
“Malahan...malam baru saja akan dimulai bagi Nona Laudya Cinthya Bella.”
End of Part 1
See you on Part 2

|
|
|
 |
 | |  |
You cannot post new topics in this forum You cannot reply to topics in this forum You cannot edit your posts in this forum You cannot delete your posts in this forum You cannot vote in polls in this forum
|
All times are GMT
Page 4 of 4
|
|
|
|
|  |